Tujuan pendidikan adalah mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan. Sehingga pendidikan memiliki arti penting bagi kehidupan manusia. Tanpa adanya sebuah pendidikan, maka hancurlah peradaban dunia ini. Namun, tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang lebih baik untuk bisa memperjuangkan hak belajar lebih tinggi tanpa adanya dukungan finansial yang memadai. Kecuali bagi mereka yang terus menerus memacu semangatnya untuk berjuang dengan meluruskan niat bahwa kuliah semata-mata hanya untuk thalabul ilmi. Insyaallah, janji Allah yaitu “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).Realita yang sebenarnya ada saat mereka kelak berjalan lebih jauh, mata akan terperangah dengan keadaan yang ada di luar idealisme mereka. Siap atau tidak siap, mereka telah ditakdirkan untuk berjibaku dengan masalah dan tantangan kehidupan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Tantangan yang ada bukan pilihan, namun hal ini menjadi fardhu bagi mereka yang mengerti akan arti dari sebuah perjuangan untuk bisa tetap bertahan hidup sebagai anak perantauan dan secara terus harus bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa ini. Saya hidup ditengah-tengah salah satu dari mereka, ikut merantau untuk memperjuangkan hidup dan masa depan saya dengan melanjutkan kuliah kejenjang yang lebih tinggi. Saya memiliki seorang sahabat yang dimana suka dan duka kami selalu jalani bersama. Secara langsung saya turut menyaksikan dan ikut menikmati hasil perjuangan dia yang tak pernah kenal lelah dan tidak ada rasa putus asa sedikitpun. Apakah hal ini terlihat beban bagi kami dalam menjalani kehidupan yang seperti ini? Jawabannya tentulah tidak! Meskipun awalnya seperti itu, saya yang merasa menjadi beban untuk dia. Namun hal itu tidak terjadi ketika saya dikuatkan oleh sahabat saya bahwa kami adalah satu tim (Team Work) yang harus bekerjasama bahu membahu saling membantu untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang kami miliki. Dalam sebuah tim (Team Work) terdapat seorang leader dan anggota, agar kehidupan sebagai perantau dapat berjalan dengan baik
dan benar, dibutuhkan figure seorang leader untuk mengarahkan kepada kebaikan tujuan bersama dan kami dapat berbagi atau bertukar peran.
Intermission…
Alhamdulillah suatu kehormatan bagi saya bisa berkuliah di Universitas Pendidikan ranking satu, dan satu-satunya kampus di Indonesia yang masuk peringkat Asia berdasarkan peringkat Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking by Subject yaitu Universitas Pendidikan Indonesia. Saya mengambil program Magister Pendidikan Anak Usia Dini. Kesannya masih terasa mimpi, dan banyak hal yang menarik, yang bisa dijadikan bahan cerita dalam sebuah untaian kenangan selama berada di kampus ini. Rasanya baru saja kemarin ujian tes masuk lalu bisa merasakan naik Lift setiap hari, bertemu dengan orang Afrika yang sering mengucapkan selamat pagi pada siapapun yang bertemu dengannya, momen ketika meminta minum kepada Office Boy di lantai 3 secara gratis dengan bonus senyuman manis bapaknya, pernah juga gara-gara lama antri untuk mengambil air wudhu waktu shalat dzuhur saya nekat masuk toilet laki-laki karena pada saat itu laki-laki sedang shalat jum’at, saya pikir dengan begitu bisa menjadi inspirasi kedepannya untuk bisa memaksimalkan waktu istirahat yang terbatas, tidak ketinggalan juga jiwa anak kos yang masih melekat yaitu tidak ketinggalan untuk berburu snack pada acara promosi doktor di lantai 5 hehe. Saya rasa jiwaku masih anak-anak di tengah-tengah proses mendapatkan gelar sekelas magister ini. Sampai-sampai saya berpikir untuk membuka kantin di lantai 2 karena disana tempat berkumpulnya para mahasiswa entah untuk sekedar istirahat, mengerjakan tugas, atau bertemu dengan anggota kelompoknya untuk menyelesaikan tugas kuliah. Lumayan ladang mendapatkan pundi-pundi rupiah hihi.
Akan tetapi kesan akademiknya di kampus ini juga tidaklah kalah serunya, saya bisa belajar bersama Dosen high quality yang katanya Dosen PAUD SPs Universitas Pendidikan Indonesia adalah dosen yang memiliki kredibilitas yang baik dengan berbagai macam prestasi dan berpengalaman di bidangnya, hal itu benar-benar saya rasakan bahwasannya Dosen PAUD SPs Universitas Pendidikan Indonesia memanglah yang terbaik. Maka tidaklah heran bagaimana para dosen kami membawakan materi dan mengarahkan jalannya diskusi secara baik dan professional. Gambaran materinya terkait Kajian Estetika untuk AUD, Isu-isu Kontemporer di PAUD, Teori-teori kritis di lingkup AUD, dll. Yang saya rasa seru itu ketika belajar di kelas. Yang gak serunya juga ada, jangan salah. Ya, ketika selesai belajar di kelas. Kok bisa? Ya isooo. Ketika belajar di kelas selesai, sudah gak lazim lagi Dosen pasti suka memberikan tugas. Tugas inilah yah yang kadang membuat mahasiswa keteteran. Curhat? Iya sekalian. Tapi, saya rasa kesan bahagia lebih banyak daripada deritanya saat berkuliah di SPs UPI jurusan PAUD ini. Insyaallah, dengan kita selalu bersyukur merasa lebih banyak orang di luar sana yang belum beruntung untuk bisa mendapatkan posisi kita saat ini, dan Alhamdulillah sekarang saya sudah mau hampir lulus, mudah-mudahan Allah SWT mudahkan ya Aamiin ya Allah.
Kesan bahagia juga bertambah lagi ketika saya menjadi salah satu penerima Jabar Future Leaders Scholarship dari Pemprov Jabar. Saya sangat bersyukur mendapatkan beasiswa ini. Hal ini yang membuat saya bisa menikmati indahnya belajar di Universitas Pendidikan Indonesia tanpa harus memikirkan biaya SPP. Namun tak berhenti disini, mengingat saya adalah anak perantauan yang jauh dari keluarga, saya harus bertanggung jawab atas kehidupan saya disini, saya juga harus memikirkan biaya-biaya untuk melanjutkan kehidupan yang jauh lebih besar dari pada biaya SPP. Bukan berarti saya tak bersyukur, saya justru sangat bersyukur atas kebaikan Allah SWT yang sudah diberikan kepada saya. Tanpa rasa syukur, saya tidak akan bisa merasakan kenikmatan dalam hidup saya sampai sekarang ini, bukankah Allah SWT menjanjikan akan menambah kenikmatan kita tatkala kita mampu bersyukur kepada-Nya. Dari sini saya banyak belajar bagaimana saya bisa hidup mempertanggung jawabkan amanah yang telah diberikan kepada saya, yaitu beasiswa ini yang mengharuskan saya hanya untuk fokus kuliah.
Saya yakin, pendidikan saya tidak hanya sampai disini ketika saya mampu hidup melengkapi kehidupan saya dengan beasiswa ini, bagaimana Allah tidak mempermudah pendidikan selanjutnya untuk menjadi mahasiswa abadi yang terus belajar. Karena saya yakin saya mampu. Dalam perjalanan menuju magister ini, saya menemukan kebahagiaan yang utuh, saya bisa mengetahui dan memaknai arti hidup yang sebenarnya bahwa finansial bukan ukuran kekuasaan, bukan segalanya, tapi hidup bersama orang lain membuat saya mengerti akan hidup ditempat yang jauh itu merupakan modal saya untuk persiapan di masa yang akan datang.
-Devita Safitri, M.Pd-

Leave a Reply