Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia mengadakan kembali kuliah umum, berkolaborasi dengan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta dengan tema “Seksualitas Anak Usia Dini” via daring melalui platform Zoom dan Live Streaming Youtube PAUD Pasca UPI, Senin, 07 Juni 2021 pukul 09.00-12.00 WIB. Tema ini dipilih karena saat ini pendidikan seksual merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan dengan anak sebelum mereka dewasa. Padahal, hal ini dapat memberikan pemahaman dan membekali anak agar lebih sadar dan peduli dengan kesehatan seksualnya dikemudian hari. Kuliah umum ke lima ini diikuti oleh 520 pendaftar. Kurang lebih 270 peserta mengikuti kuliah umum via zoom meeting dan sisanya via streaming youtube. Peserta berasal dari berbagai universitas dan lembaga mitra PAUD SPs UPI.
Acara ini diawali dengan sambutan serta pengenalan Prodi PAUD oleh ibu Dr. Euis Kurniati, M.Pd selaku Ketua Prodi PAUD SPs UPI. Dalam sambutannya beliau menyampaikan informasi mengenai Prodi PAUD dan program program yang telah dilaksanakan salah satunya adalah campus visit dengan antusias dari peserta yang luar biasa. Beliau juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah membantu sehingga acara ini dapat terlaksana dengan baik. Selanjutnya dilanjutkan sambutan dari Kaprodi PGPAUD UPI Kampus Purwakarta, Ibu Dr. Suci Utami Putri, M.Pd. Dalam sambutannya beliau menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada Prodi PAUD SPs UPI yang telah menyelenggarakan acara ini dan juga para partisipan yang telah menyempatkan waktunya untuk hadir dalam acara kuliah umum ini. Acara sambutan diakhiri oleh Wakil Direktur UPI Kampus Purwakarta, Bapak Dr. Idat Muqodas, M.Pd. Beliau menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya atas kerjasama ini karena tema yang dipilih sangat bermanfaat terutama bagi PAUD seksualitas masih sangat tabu untuk dibicarakan. Selain itu, momentum pandemi ini perlu dimanfaatkan untuk hal positif salah satunya kuliah umum. Semoga acara ini menjadi amal ibadah dan barokah bagi semua.
Narasumber pada kuliah umum kali ini adalah Ibu Rizka Haristi, M.Pd yang merupakan seorang peneliti kekerasan sex pada anak dan Alumni S2 PAUD SPs UPI. Pada kesempatan ini beliau memaparkan mengenai fenomena kekerasan seksual anak usia dini. Dilanjutkan oleh Ibu Hani Yulindrasari, S.Psi., M.Gendst., Ph.D (Dosen S2 PAUD SPs UPI) menjelaskan tentang perkembangan seksual anak usia dini. Kemudian pemaparan materi dilanjutkan oleh Ibu Risty Justicia, M.Pd yang merupakan salah satu Dosen PGPAUD UPI Purwakarta yang juga merupakan Asesor BAN PAUD PNF yang dimoderatori oleh salah satu mahasiswa aktif S2 PAUD SPs UPI yaitu Kang Cepi Ramdani, S.Pd. Beliau merupakan Ketua Podcast PAUD UPI (UPI) dan juga alumni PGPAUD UPI Kampus Purwakarta.
Berdasarkan pemaparan pemateri dapat disimpulkan bahwa, seksualitas adalah aspek – aspek terhadap kehidupan manusia terkait faktor biologis, sosial, politik dan budaya, terkait dengan seks dan aktifitas seksual yang mempengaruhi individu dalam masyarakat. Orang dewasa sering menganggap anak adalah makhluk asexual dan konsep innocent (melindungi secara berlebihan). Padahal sejak lahir anak memiliki organ seksual, anak mengalami masturbasi dimulai usia 2 tahun, anak juga mengalami sexual play mulai usia 4 tahun seperti bermain peran keluarga, selain itu menurut Teori Perkembangan Psikoseksual Freud yang menyatakan bahwa anak memiliki zona erotis, jadi tidak mungkin anak itu makhluk aseksual, sexual play anak dianggap normal jika wajar, tidak ada pemaksaan, melibatkan bermain peran, dilakukan diusia yang sama dan tidak membahayakan siapapun.
Penyebab kekerasan seksual yang terjadi pada anak usia dini, diantaranya Opresi laki-laki dalam kekerasan seksual terhadap anak merupakan ekspresi machoisme (toxic masculinity) atas dasar hasil perpanjangan budaya patriarki. Kekerasan seksual anak muncul didasari otoritas yang dimiliki laki-laki dewasa, memiliki kedudukan maupun wewenang dalam relasinya dengan anak sehingga membuat anak secara sadar maupun tidak sadar mengikuti apa yang diperintahkan oleh pelaku. Selain itu, kondisi anak berada di posisi yang dianggap rentan, didukung oleh anggapan budaya yang tabu mengajarkan seksualitas kepada anak, menyebabkan keterbatasan memperoleh pengetahuan seksual yang tepat, sehingga anak menjadi sasaran pelaku yang paling memungkinkan.
Orang dewasa dapat memberikan pengetahuan seksual untuk anak seperti perbedaan jenis kelamin dalam hal fisik, asal bayi, proses kehamilan dan kelahiran bayi yang perlu diinformasikan secara benar kepada anak, pemahaman identitas gender yang konstan, pemahaman gender yang berkesetaraan dan berkeadilan antara laki-laki dan perempuan. Selain itu juga, bisa diterapkan underwearrules yang merupakan panduan sederhana untuk membantu orang tua dan pendidik menjelaskan kepada anak-anak, dimana orang lain tidak boleh menyentuh tubuh mereka diarea yang tertutup pakaian dalam begitupun sebaliknya, goodsecret and bad secret serta bagaimana melaporkan kejadian yang tidak menyenangkan. Pendidik dan orang tua perlu memberikan rasa aman kepada anak agar anak bisa terbuka tentang apa yang terjadi di dalam dirinya sehingga rasa percaya dapat terbangun tanpa mengganggu psikologis anak.

Leave a Reply